Tag Archives: pengelolaan kelas

Manajemen Kelas

1 Jun

Dunia pendidikan pada era ini terlalu sibuk dengan perubahan kurikulum yang terlalu cepat, sehingga cukup membingungkan pihak peserta didik ataupun pendidik. Namun hal yang mendasar dalam mengelola kelas menurut saya kurang begitu diperhatikan, yaitu mengenai kecakapan guru dalam menciptakan kondisi kelas yang kondusif dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran berjalan efektif. Jika kita telaah makna dari manajemen kelas yaitu, manajemen adalah  suatu kegiatan agar menciptakan dan memertahankan kondisi yang optimal  bagi terjadinya proses belajar  di dalamnya mencakup pengaturan orang (siswa) dan fasilitas, yang dikerjakan  mulai terjadinya kegiatan pembelajaran di dalam kelas sampai berakhirnya pembelajaran di dalam kelas. Sedangkan kelas merupakan sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pembelajaran dengan guru yang sama pula. Manajemen kelas dapat diartikan sebagai serangkaian usaha guru dalam menciptakan kondisi kelas yang efektif sehingga siswa memahami pembelajaran yang diikutinya secara baik.

935423_4101261788920_1983478912_n

Dalam membimbing sebuah kelas, guru dibebaskan mengadopsi beragam pendekatan belajar baik demokratis ataupun otoratis yang tentu dengan mengobservasi kondisi dan karateristik kelas sebelumnya. Namun jangan heran jika kita para calon guru yang biasanya berlatih (micro teaching) dengan maksimal 30 siswa dan ketika terjun langsung ke kelas sebenarnya di sekolah dengan mendapati 46 siswa dalam satu kelas misalnya. Ya, begitulah pengalaman pertama saya dalam mengajar di kelas sebenarnya di SD Jatihandap pada saat mengontrak mata kuliah pengelolaan kelas. Kesan pertama ketika masuk kelas padat tersebut saya merasa sedikit gugup pada awalnya. Pada tahap eksplorasi pembelajaran saya mampu menguasai kelas dengan baik, namun pada tahap evaluasi dengan menerapkan model pembelajaran sceamble seketika kelas menjadi ribut. Dan suara guru tidak dapat didengar secara baik oleh siswa, karena teredam oleh suara 46 siswa.

Masalah lain yang saya rasakan pada saat itu adalah adanya anak yang bersikap mencari perhatian, attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian). Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.

Dan ada juga anak yang bersikap bossy dan cenderung membully anak lainnya atau dikenal dengan istilah Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan). Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.

Sebenarnya syarat-syarat kelas yang baik antara lain adalah:

  1. Rapi,bersih,sehat, tidak lembab,
  2. Cukup cahaya yang meneranginya,
  3. Sirkulasi udara cukup,
  4. Perabot dalam keadaan baik,cukup jumlah dan ditata dengan  rapi, dan
  5. jumlah siswa tidak lebih dari 40 orang. 525176_4101256308783_1877746602_n

Jadi ketika ingin menciptakan pembelajaran yang ideal, sebelumnya juga sangat penting bagi pihak sekolah dalam mempertimbangkan hal-hal yang dapat menghambatnya idealisme tersebut. Pihak sekolah semestinya harus mampu menahan ego mereka dalam menampung jumlah masuk siswa baru, jangan hanya membangun prestise di masyarakat bahwa seko;lah bagus adalah sekolah yang memiliki banyak siswa. Karena hal ini pasti akan menyulitkan siswa dalam memproses informasi yang diberikan guru, dan jelas guru pun akan kewalahan dalam menangani jumlah siswa yang terlalu banyak tersebut. Dan masukan untuk mahasiswa calon guru adalah kita jangan hanya mempelajari tentang beragam keilmuan dan dasar-dasar mendidik secara teoritis, tapi juga menjadi praktisi dalam dunia pendidikan dengan memperluas pengetahuan agar terbangunnya kepercayaan dan wibawa seorang pendidik.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.