filsafat pendidikan

14 Jun

Filsafat merupakan proses berpikir kritis dan mendalam untuk mengetahui hakikat tentang segala sesuatu. “segala sesuatu” disini dengan kata lain objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada baik itu ciptaan Tuhan maupun hasil karya manusia. Objek formal filsafat merupakan pertanyaan yang memerlukan jawaban (pertanyaan reflektif). Rasa ingin tahu dan ketidakpuasan merupakan cikal-bakal seseorang dalam berfilsafat, karena dengan demikian seseorang akan mencari jawaban dari yang dipertanyakan dalam benaknya.

Hasil berfilsafat harus memiliki sifat normatif. Maksudnya, bahwa system teori yang dihasilkan dalam berfilsafat harus sesuai dengan apa yang yang dicita-citakan dan apa yang seharusnya. Hasil berfilsafat juga harus bersifat individualistik-unik yaitu hasil teori filsuf yang satu dan yang lainnya akan berbeda namun dengan ketidaksamaan tersebut tidak membuat para filsuf saling menjatuhkan sistem teori filsuf lainnya, maka oleh karena itu kebenaran filsafat bersifat subjektif-paralelistik.

Banyak orang yang salah mengartikan filsafat, mereka mengira bahwa orang yang berfilsafat merupakan perbuatan yang tabu dan menyimpang, bahkan mereka pikir orang-orang yang berfilsafat merupakan orang-orang tak berTuhan. Namun pada kenyataannya filsafat berbeda dengan agama, filsafat dimulai dengan ketakjuban, keraguan dan ketidakpuasan akan tetapi agama dimulai dengan keimanan. Namun keduanya memiliki kesamaan dalam hal mencintai kebenaran.  Filsafat juga berbeda dengan sains, dalam filsafat tidak diperlukan observasi maupun percobaan, namun keduanya dapat disamakan dalam hal proses berpikirnya yang kritis.

Filsafat pendidikan merupakan salah satu filsafat khusus atau filsafat terapan, disebut demikian karena filsafat pendidikan memiliki objek yang lebih khusus yaitu berkenaan dengan pendidikan sebagai hasil karya manusia. Terdapat perrbedaan dalam pola pikir penyajian antara filsafat umum dengan filsafat pendidikan. Filsafat umum berisikan konsep hakikat realitas, hakikat manusia, dll. Sedangkan filsafat pendidikan berisikan konsep tentang tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, metode pendidikan serta peranan pendidik dan anak didik.

Fungsi filsafat pendidikan bagi pendidik adalah memberikan wawasan mengenai hakikat pendidikan, menjadi asumsi bagi praktek pendidikan, memberi pedoman seperti yang di rumuskan dalam tujuan pendidikan, membangun sikap kritis dan kemandirian intelektual di tengah-tengah teori pendidikan dan praktek pendidikan yang sedang berlangsung, artinya bahwa seorang guru tidak sekedar menerima konsep-konsep pendidikan yang telah ada namun diharapkan mereka dapat mencari kejelasan dari setiap ide-ide yang telah ada.

Selanjutnya, dalam tulisan berikutnya saya ingin membahas tentang filsafat pendidikan idealisme, pada system filsafat idealisme para filsuf menekankan pentingnya unsur spiritual (jiwa). Hakikat realitas bersifat spiritual atau ideal. Para filsuf idealisme meyakini bahwa segala yang tidak dapat dipikirkan adalah tidak nyata.  Contohnya menurut filsuf idealisme kursi bukanlah bersifat material, jadi ketika kursi itu hilang, dibakar, atau dihanyutkan konsep kursi secara spiritualnya masih tetap melekat, yaitu ide tentang kursi. Hakikat manusia menurut idealisme yaitu kemampuan memilih, kemampuannya dalam berpikir, dsb. Menurut idealism, seseorang memperoleh pengetahuan dengan cara berpikir, atau juga dengan mengingat kembali, bahkan melalui intuisi.

Para filsuf idealisme sepakat bahwa nilai-nilai bersifat abadi, bahwa manusia diperintah oleh nilai-nilai moral imperatif dan abadi yang bersumber dari Realitas yang Absolut. Implikasi filsafat pendidikan idealisme terhadap pendidikan terlihat dari tujuan pendidikan idealisme akan pendidikan yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir dan mengembangkan karakter anak didik. Kurukulum pendidikan Idealisme berisikan pendidikan liberal dimaksudkan untuk pengembangan kemampuan-kemampuan rasional dan moral. Kurikilumnya diorganisasi menurut mata pelajaran dan berusat pasa materi pelajaran.

Metode pendidikan idealisme hendaknya mendorong siswa untuk membuka cakrawala; mendorong berpikir reflektif; memberikan keterampilan-keterampilan berpikir logis, dll. Metode dialetik sangat diutamakan namun, beberapa metode yang efektif yang dapat mendorong belajar dapat diterima.

Peranan guru dan siswa, menurut idealisme guru harus lebih unggul daripada siswa, baik itu wawasan intelektual ataupun moralnya agar bisa menjadi tauladan bagi siswa.  Dan siswa bebas untuk mengekpresikan bakatnya.

Kritikan: “secara keseluruhan saya cukup memahami konsep-konsep yang terdapat pada filsafat pendidikan idealisme, seperti halnya manusia hidup di dunia harus sesuai dengan nilai dan norma dari Yang Absolut . namun melihat metode pendidikan menurut Idealisme yang cenderung mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar, saya merasa kurang sepakat karena menurut saya akan lebih baik untuk tidak mengabaikan dasar-dasar fisiologis karena apabila kita mengabaikan dasar fisiologis dalam belajar seperti mengabaikan pengalaman  yang di dapat akan memungkinkan terjadinya ketimpangan dalam hasil pembelajaran.”

Berbeda dengan aliran idealisme, filsafat pendidikan realisme meyakini bahwa segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra kita merupakan sesuatu yang riil dan nyata, realisme menganggap bahwa realitas berdiri sendiri dan tidak bersandar kepada spirit atau jiwa. Hakikat manusia menurut realisme merupakan bagian dari alam, dan merupakan puncak dari evolusi yang terjadi di alam. Menurut realisme manusia memperoleh pengetahuan dari tanpa membawa pengetahuan, seperti ketras putih yang kosong atau juga lebih dikenal dengan teori tabula rasa. Perlu diingat pula dalam realisme pengujian kebenaran akan suatu pengetahuan dikenal dengan teori uji korespondensi. Contohnya, ketika seseorang mengatakan bahwa rasa garam itu asin, untuk mengetahui kebenaran tentang pengetahuan tersebut seseorang harus diuji melalui uji korespondensi yaitu dengan mencicipi garam.

Hakikat nilai menurut realisme dapat kita lihat sebelumnya bahwa manusia adalah bagian dari alam maka manusia harus patuh pada hukum alam, pada tingkat lebih rendah diuji melalui konversi atau kebiasaan yang ada di masyarakat. Pendidikan menurut realisme bertujuan agar sisva dapar bertahan hidup (survive) baik dalam lingkungan alam maupun lingkungan sosialnya, untuk mencapai tujuan ini para filsuf realisme meyakini bahwa kurikulum sebaiknya meliputi 1. Sains dan dan matematika; 2. Ilmu-ilmu social (humanisme); dan 3. Nilai-nilai.

Seperti idealisme, realisme percaya bahwa kurikulum yang baik diorganisasi menurut mata pelajaran dan berpusat pada materi pelajaran. Pengajaran harus dimulai dari sesuatu yang sederhana menuju yang lebih rumit atau kompleks.  Kurikulum harus berisi nilai-nilai esensial agar anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkunganya (orientasi tersebut memiliki kesamaan dengan orientasi pendidikan idealisme, yaitu Essensialisme). Metode pendidikan dalam realisme yaitu bersumber dari segala pengalaman, baik itu langsung maupun tidak langsung (seperti melalui membaca buku). Metode mengajar yang disarankan filsuf realisme adalah dengan cara yang otoriter. Guru mewajibkan siswanya untuk menghafal, menjelaskan, dan membandingkan fakta-fakta; menginterpretasikan hubungan-hubungan, dan mengambil kesimpulan makna-makna baru.

Peran guru menurut realisme adalah sebagai pengelola KBM (classroom is teacher-centered), guru juga sebagai penentu materi pelajaran. Siswa harus taat pada aturan dan berdisiplin, sebab aturan yang baik sangat diperlukan dalam kegiatan belajar.

Kritikan:

“menurut saya, melihat tujuan pendidikan realisme yang mengarah agar siswa dapat bertahan atau survive di lingkungannya memang dapat dibenarkan, namun kita juga harus memahami bahwa sebagai umat beragama dan berTuhan kita harus  mampu memberikan keseimbangan bahan ajar untuk peseta didik agar mereka bisa seimbang antara apa yang menjadi cita-cita riil mereka di dunia dan cita-citanya di “dunia yang sesungguhnya” kelak. Metode pendidikan yang bersifat otoriter juga menarik untuk kita bahas, peranan guru yang berkuasa di dalam kelas dan menuntut prestasi anak sesuai apa yang dipandang baik menurut guru terasa kurang tepat karena dengan keadaan seperti itu anak akan merasa tertekan secara psikis mental mereka akan menentang tuntutan-tuntutan guru, anak tidak bebas dalam mengekspresikan apa yang mereka inginkan untuk pencapaian hidupnya. Contonya, ketika guru lebih mengutamakan pendidikan sains dan matematika, padahal mungkin saja ada anak yang lebih tertarik pada hal-hal tentang kesenian, maka ia tidak akan terlalu berkembang sesuai apa yang di kehendaki guru. Pada anak yang cenderung aktif, kegiatan belajar secara realisme anak akan menemukan titik jenuh.”

Filsafat pendidikan pragmatisme. Pragmatisme merupakan reaksi ketidakpuasan akan cabang-cabang filsafat yang ada sebelumnya, realitas secara pragmatisme adalah sebagaimana dialami melalui pengalaman setiap individu. Bahkan seorang filsuf pragmatisme berpendapat bahwa hanya realitas fisik yang ada, teori umum tentang realitas tidak mungkin ada, manusia dipandang bagian dari dinamika.

Pengetauan diperoleh dari pengalaman, dan yang paling diandalkan adalah metode ilmiah. Pengetahuan bersifat relatif, karena akan bermakna apabila dapat diaplikasikan. Nilai pada pragmatisme hakikatnya diturunkan oleh manusia, kebenaran bersifat relatif karena tergantung pada posisi yang ada.

Pendidikan harus mengajarkan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan dinamika yang ada di masyarakat. Kurikulum pendidikan berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji. Metode pendidikan yang digunakan adalah problem solving, dan guru berperan sebagai pembimbing anak didik.

Kritikan: filsafat pragmatisme sangat memperhatikan dinamika yang terjadi di kehidupan, para filsuf pragmatisme cenderung menggunakan metode pendidikan yang berubah-ubah karena mengingat bahwa dinamika terjadi pada individu sebagai peserta didik. Menurut saya Pragmatisme juga cenderung tidak dapat konsisten, karena nilai-nilai akhir menurut pragmatisme tidaklah ada mereka mengganggap nilai kebenaran selalu relatif dan tergantung pada kondisi yang ada.

Filsafat pendidikan scholatisisme. scholatisisme menganut prinsif hylemorphe yang menyatakan bahwa segala sesuatu (kecuali Allah dan malaikat) merupakan kesatuan dari materi dan bentuk, begitu pun dengan hakikat manusia bahwa manusia merupakan kesatuan jiwa dan raga. Menurut scholatisisme kebenaran yang absolute diperoleh manusia melalui keimanan, dan manusia memperoleh kebenaraan akan benda-benda melalui rasio atau akal dengan cara berpikir. Scholatisisme meyakini bahwa pengetahuan tentang nilai-nilai kebenaran yang pasti di dalam kebudayaan masa lampau dipandang sebagai kebudayaan ideal.

Tujuan pendidikan menurut scholatisisme hendaknya tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya saja melainkan untuk memaksimalkan semua potensi yang ada. Isi pendidikan harus meliputi agama dan humanities.metode pendidikan yang digunakan adalah metode latihan formal dan metode katekismus. Guru diharapkan dapat menjadi tauladan siswanya dengan orientasi pendidikan parennialisme.

Kritikan: menurut saya kurikulum scholatisisme yang cenderung bersumber dari buku besar (the graet book) dan doktrin-doktrin yang dipandang memuat pengetahuan dan nilai-nilai yang universal dan abadi masih harus dipertimbangkan lagi, karena kita juga harus peka terhadap perubahan jaman yang terjadi di kehidupan.

Filsafat pendidikan eksistensialisme. Eksistensialisme mengakui adanya realitas yang bersifat fisik atau material, hakikat manusia dalam eksistensialisme yaitu manusia berttanggung jawab atas keberadaan dirinya, manusia bertanggung jawab atas eksistensinya. Manusia mengetahui hanya melalui pengalaman yang dihayati oleh individu sebagai subjek atau pribadi. Kebenaran selalu relative untuk setiap pertimbangan undividual, dan kebenaran absolute tidaklah ada. Para filsuf eksistensialisme berpendapat bahwa setiap nilai ditentukan oleh kebebasan memilih setiap pribadi perseorangan.

Eksistensialisme bertujuan agar siswa memperoleh pengalaman hidup yang luas sehingga dengan kebebasannya ia mampu mewujudkan dirinya sebagai manusia. Apapun yang dipelajari peserta didik merupakan suatu alat bagi peserta didik tersebut dalam mengembangkan pengetahuan diri dan tanggung jawab diri. Eksistensialisme mengguakan teknik-teknih pembelajaran nondirective sebagai metode pendidikannya degan guru sebagai pembimbing dan siswa bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Kritikan: saya kurang setuju mengenai epistemologi menurut Eksistensialisme bahwa kebenaran selalu relatif untuk setiap pertimbangan individu dan kebenaran Absolut tidaklah ada, karena menurut saya bahwa benar-salah itu ditentukan dari Abolut, dalam hal ini adalah Allah SWT, jika pada jaman sekarang kita menggunakan teori epistemologi dalam eksistensialisme maka mungkin hukum tidak akan berlaku, manusia akan hidup sesuai kehendaknya dan tanpa aturan.

Filsafat pendidikan progresivisme. Menurut progresivisme pendidikan adalah lembaga yang mampu membina manusia untuk dapat beradaptasi dengan perubahan jaman demi survivenya manusia. progresivisme bertujuan agar anak mampu memecahkan masalah baru dalam hidupnya dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang berada dalam proses perubahan. Kurikulum: child centered, community centered, experience centered, flexible, interdisipliner. Metode problem solving serta inquiry and discovery method. Peran guru adalah sebagai penyedia bebrbagai pengalaman dan sebagai pembimbing. Siswa  berperan sebagai organisme yang rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh.

Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif.

Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik.

Filsafat pendidikan konstruktivisme. menurut konstruktivisme, manusia tidak pernah dapat mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Konstruktivisme memandang manusia bukanlah sebagai tabula rasa. Manusia tumbuh aktif membangun sendiri pengetahuannya. Sumber pengetahuan berasal dari dunia luar tetapi dikonstruksikan dari dalam diri individu. Dalam konstruktivisme istilah pendidikan lebih diartikan sebagai mengajar, mengajar di sini bukan berarti mentransfer pengetahuan melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Tujuan pendidikan konstruktivisme lebih menekankan pada perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam sebagai hasil konstruksi aktif si pelajar. Kurikulum sebagai program aktivitas di mana pengetahuan dapat dikonstruksikan.

Menurut konstruktivisme tidak ada satu metode mengajar yang tepat,  guru disarankan untuk mengunakan berbagai metode mengajar. Peran guru adalah sebagai mediator dan fasilitator dengan kurikulum yang merupakan suatu program aktivitas yang berpusat pada masalah yang perlu dipecahkan para siswa sehingga dengan demikian para siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.

Filsafat pendidikan nasional: pancasila

Hakikat realitas, bahwa realitas adalah ciptaan Tuhan YME. Manusia adalah ciptaan Tuhan, dan manusia adalah kesatuan badani-rohani yang dibekali potensi untuk beriman kepada Tuhan YME serta memiliki tujuan hidup. Segala pengetahuan hakikatnya bersumber dari Tuhan YME, manusia dapat memperoleh pengetahuan melalui keimanan, berpikir, pengalaman empiris, penghayatan, dan intuisi. Hakikat nilai, sumber pertama segala nilai hakikatnya adalah Tuhan YME. Makna pendidikan, yaitu bahwa pendidikan adal usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan seasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (pasal 1 UU RI No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Filsafat pendidikan nasional: pancasila  bertujuan, untuk mengembangkan segala potensi anak didiknya denagn menggunakan metode pendidikan multi metode dan memperhatikan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA). Peran pendidik harus dapat menjadi tauladan, , mampu membangun karsa anak didiknya, dan memberikan kebebasan kepada anak didik untuk belajar mandiri.

Kesimpulan: dari beberapa cabang filsafat pendidikan yang dipaparkan, menurut saya filsafat pendidikan nasional:pancasila lah yang memang paling memungkinkan dalam mengatur dan menentukan praktek dan teori mendidik untuk merealisasikan cita-cita nasional bangsa Indonesia. Karena pada dasarnya bangsa Indonesia memang menganut ideologi pancasila. Namun dalam prakteknya kita selaku pengajar perlu mengadaptasi beberapa konsep yang ada pada aliran filsafat lainnya, agar memungkinkan terjadinya perubahan positif yang signifikan pada anak.

referensi: pengantar filsafat pendidikan. penulis: Tatang Syaripudin dan Kurniasih (percikan iman)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: